Tiga Dara

Kesederhanaan yang menyenangkan.

Sebelum menonton Tiga Dara, mari kita simak kalimat yang harusnya jadi tagline dari film musikal klasik 1956 arahan Usmar Ismail ini; Nunung selalu merenung, Nana selalu merana, dan Neni selalu bersedih hati.

Nunung, Nana, Neni.

Ketiganya bersaudara. Ketiganya cantik, meski karakternya jauh berbeda. Nunung jutek banget, Nana flirty mampus, dan Neni centil gemez.

Mereka tinggal serumah bersama seorang ayah bernama Kandar, dan nenek tanpa nama yang hampir sepanjang film kerjaannya cuma ngomel dan nyirih.

Ceritanya, Nunung si anak tertua membuat si nenek gelisah. Karena mendekati usianya yang ke-30 (Nunung, bukan nenek) belum juga terlihat tanda-tanda dekat dengan jodoh. Merasa bertanggungjawab atas kebahagiaan Nunung, si nenek memberikan ultimatum sekaligus ancaman; Nunung harus cepat mencari jodoh, kemudian menikah. Dengan laki-laki yang ganteng, tinggi, kaya, pintar, dan.. pokoknya sempurna.

Siapa yang kemudian direpotkan karena hal ini?

Tentu saja Pak Kandar dan dua putrinya yang lain.

Pak Kandar dipaksa si Nenek untuk mengenalkan Nunung ke teman-teman sekantornya, Nana diminta si Nenek mengajak Nunung ikut hadir di pesta dansa-dansi anak-anak muda. Di antara mereka semua, ada Neni yang tingkah polahnya bikin keluarga kecil itu tetap waras.

Sangat menyenangkan melihat Jakarta klasik di tahun 1950an.

Lalu lalang mobil tua, skuter, jeep, sepeda kumbang, orang-orang berpakaian pejuang, sampai rumah-rumah dan gas station yang mirip di film-film berlatar kota kecil amerika.

Di Tiga Dara, Panglima Polim, sekitaran Blok M, dan Blok A masih bisa dipakai gegoleran atau main bola. Nggak ada macet sama sekali. Padahal nggak ada 3 in 1 maupun ganjil genap. Bioskop Metropole masih dibagi dalam kelas-kelas kursi yang harganya beda-beda, dan tiket termahal ada di kelas balkon: 25 rupiah.

Ada dua karakter lagi yang kehadirannya di film ini cukup penting.

Yang pertama namanya Totok, yang kedua namanya Herman. Totok pemuda kelas menengah, dan Herman pemuda kelas bawahnya dikit. Nama lengkap mereka? Sutotok, dan Suherman. Oh iya.. Nama lengkap Pak Kandar: Sukandar.

Nunung, Nana, Neni, Nenek, Sukandar, Sutotok, Suherman.

Memang sesederhana itulah penamaan tokoh-tokoh di film ini.

Walaupun beda 60 tahun tetep aja cerita, dialog, jokenya masih relevan sama zaman sekarang. jadinya masih enak nontonnya.

Dan itulah yang membuat Tiga Dara istimewa; kesederhanaan.

Jodoh dan cinta adalah urusan sederhana, nggak perlu dibawa ribet. Selama tetap dibawa asik, kita akan baik-baik saja.

Scene favorit: Nunung jalan-jalan di Blok M terus ……… (nonton sendiri)

Tiga Dara (Usmar Ismail, 1956)

Hari ini masih sayang di beberapa bioskop

***

 

by Eyang Langit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s