Athirah

Teduh, Menyenangkan, Manis

Sebelumnya, Eyang akan sampaikan di awal kalau review kali ini bakalan agak serius.

Athirah. Produk Miles Films yang kabarnya sudah selesai diproduksi bahkan sebelum AADC2 ini sekarang lagi tayang di bioskop. Cuma kebagian beberapa layar. Cenderung lebih sedikit dari film-film Miles biasanya.

Mengambil lokasi syuting di Sulawesi Selatan, Athirah berlatar Bone dan Makassar tahun 50-60an. Ceritanya cukup sederhana. Tentang Athirah, – ibunda Jusuf Kalla. Iya. Jusuf Kalla yang wapres itu – dan bagaimana dia (Athirah. Bukan Jusuf Kalla.) menghadapi konflik hadirnya perempuan lain di dalam kehidupan suaminya. Suaminya? Berarti bapaknya Jusuf Kalla dong. Iya.

athirah

Durasi Athirah hanya 80 menit. Atau 81 menit kalau merujuk ke website 21cineplex.com. Tadinya Eyang pikir Athirah akan penuh drama dan dialog-dialog tentang cinta sejati dan romantis macam quote di Path. Secara sinopsisnya saja sudah kayak gitu.

Tapi ternyata Eyang salah. Athirah bahkan bisa disebut sebagai film yang minim dialog. Di Athirah, semua karakter bicara dengan secukupnya dan sewajarnya. Tanpa emosi meledak-ledak sampai banting-banting barang atau gebrak-gebrak meja macam di film drama cinta pada umumnya.

athirah-dan-ucu_f923d124dcc34d24a88254dc47adc4bf

Cut Mini sebagai Athirah tampil sangat meyakinkan di sini. Athirah tetaplah perempuan biasa. Istri dan ibu yang baik. Ibu yang juga bisa marah, bisa kecewa, namun tetap tegas dan punya prinsip. Chris Nelwan sebagai Jusuf Kalla remaja (di sini cuma disebut “Ucu” doang sih) bisa dengan baik menerjemahkan beberapa gestur khas Jusuf Kalla. Arman Dewarti (sebelum ini Eyang belum pernah denger namanya) sebagai Haji Kalla (di sini cuma disebut “Puang Ajji”) juga sangat baik menampilkan karater bapak yang kalut, dingin, namun tetap bertanggung jawab. Bertanggung jawab pada pilihannya, keluarganya, dan nasib orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya.

athirah-201609190854251

Athirah juga banyak bercerita lewat gambar indah tentang budaya Bugis.  Pemandangan indah, kain tenun Makassar, sampai kuliner yang bikin laper. Tepuk tangan buat departemen artistik dan departemen kamera yang bekerja dengan sangat baik di film ini. Tepuk tangan lebih kenceng buat Riri Riza dan Miles Films yang kembali berhasil membuat film bagus.

Athirah berakhir dengan teduh, menyenangkan, dan manis. Seteduh dan semenyenangkan “Ruang Bahagia”, – lagunya Endah n Rhesa yang menjadi pengiring saat credit title,

dan semanis teman nonton Eyang malam ini.

Eyang Langit, September 2016

***

0mkxcg1

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Pingback: Athirah | seandhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s