Rumah Malaikat

HORAS!

Apa kabarnya kalian, cucu-cucu opung? Baik-baik ya?

Opung mau bikin review untuk film yang baru saja opung tonton berjudul Rumah Malaikat. Manis sekali ya? Semanis narkoba belang punya cucu opung. Sampai bikin ngilu di gigi opung.

Jujur saja, opung tidak tahu ini Rumah Malaikat maksudnya apa. Sempat mengiranya opung kalau film ini bercerita tentang rumah Tuhan dengan anak-anak malaikatnya yang beraneka ragam, ada yang kakunya seperti Kanebo kering, ada yang bandel benar hobinya bikin platypus, ada yang pembangkang lalu dihukumnya dia ke neraka, ada juga yang homo dan jatuh cinta sama manusia. Tapi kelihatannya opung salah franchise, ya?

Narkoba belang itu enak, cucu.

Tersebutlah sebuah bangunan tua yang interiornya seperti belum pernah dibersihkan sejak zaman perang kemerdekaan. Dibersihkan dan ‘dibersihkan’ tentunya. Opung heran sekali ada orang yang nekat bikin tempat itu jadi panti asuhan dengan nama Rumah Malaikat. Bah!

Tiba-tiba ingin mainnya opung game Resident Evil klasik.

resident-evil-screenshot-04-ps4-ps3-us-13jan15

Lebih heran lagi opung ketika adanya gadis cantik yang mau kerja di panti asuhan seram dan banyak penampakan. Bah!

Sepanjang film jantung opung yang sudah tidak muda lagi ini disuruhnya bekerja keras, cu! Sampai merasa ruginya opung, jantung sudah kerja keras tapi tidak orgasme, hanya takut saja! Bah!

Eh, sedang bahas apa tadi opung?

Oh ya, Rumah Malaikat.

Panti asuhan seram itu menyimpan banyak sekali misteri, lebih banyak dari gunung berapi. Termasuk rahasia yang disimpannya oleh anak-anak kecil di panti.

rumah_malaikat2

Bayangkan, masih kecil sudah pandainya mereka bikin rahasia. Mungkin mereka bercita-cita jadi pemegang rahasia negara ya saat dewasa nanti?

Opung sebetulnya cukup suka dengan konsep cerita film ini, tapi sayangnya tampak kurang maksimalnya dibikin itu eksekusi. Banyak adegan yang terlihat terpotong-potong, seperti daging di Hanamasa, dan terasanya terlalu panjang itu durasi, karena …

……………

………………..

……………………..

…………………………

Bah! Opung ketiduran!

Maaf ya, cu, terlalu semangat Opung menulis review ini sampai ketiduran saat menontonnya pun opung tulis!

Mungkin opung ketiduran karena ada saatnya di film ini yang terasa sangat datar dan bosan. Atau bisa juga opung merasa seperti didongengi oleh para pemeran film yang membaca dialog seperti sedang membaca buku telepon. Atau Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Opung belum lahir di tahun di mana UUD 1945 dibuat, tapi si Mbah udah lahir kayaknya, udah puber. Sungguh.

BTW, poster-poster  mereka opung akui sungguh keren.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Bay says:

    Nice try opung..
    Biarkan mbah melakukan tugasnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s